55.000
Tahun Lalu
Jejak Awal Manusia ‘Modern’
Berdasarkan jurnal ilmiah yang terbit pada tahun 2024 lalu, manusia modern (Homo sapiens) sudah ‘mengunjungi Raja Ampat sekitar 55.000 tahun lalu.’ Temuan dari tim arkeologis yang terdiri atas peneliti dari Australia, Selandia Baru dan Indonesia tersebut didasari atas penemuan di Gua Mololo di Pulau Waigeo yang lalu dikembangkan menjadi dua teori rute migrasi, yaitu rute utara dan rute selatan (Disadur dari National Geographic, 4 September 2024).
Abad 15
Pengaruh Kesultanan Tidore
Pada abad ke-15 Kesultanan Tidore mulai mengembangkan pengaruhnya di Raja Ampat dan daerah pesisir Papua lainnya baik di utara maupun selatan (dari berbagai sumber).
Asimilasi adat istiadat dan tradisi Tidore dengan masyarakat Raja Ampat menjadi suatu keniscayaan, suatu keunikan yang hari ini dapat dilihat pada, contohnya, masyarakat di Kepulauan Misool.
1860-1869
Ekspedisi Wallacea dan the Malay Archipelago
Kepulauan Raja Ampat merupakan salah satu daerah yang menjadi fokus dari ekspedisi Alfred Russel Wallace, atau yang dikenal dengan Ekspedisi Wallacea, pada tahun 1860 (dari berbagai sumber).
Hasil ekspedisinya tersebut tertuang dalam “The Malay Archipelago” (terbit 1869), dan sekaligus mengonfirmasi keberlimpahan keanekaragaman hayati Raja Ampat dan beberapa tempat lain di Indonesia.
'Jantung' Segi Tiga Terumbu Karang
Pada tahun 2002, sebuah tim yang terdiri atas ilmuwan dari Indonesia dan mancanegara memublikasikan “A Marine Rapid Assessment of the Raja Ampat Islands, Papua Province, Indonesia”.
Penelitian tersebut menjadi referensi ilmiah bagi masyarakat dan pemangku kepentingan di Raja Ampat dalam mengembangkan pengelolaan kawasan konservasi perairan beserta pemanfaatannya yang berkelanjutan.
